Kali ini saya akan membahas tentang p-e-r-t-e-m-u-a-n.
Mengapa topik ini menarik bagi saya?
Karena pertemuanlah awal dari suatu cerita.
Kita hidup, kita bertemu dengan banyak orang.
Tetapi, kita tidak bisa memilih orang yang mana yang akan menjadi bagian
dari hidup kita.
Tapi, ironisnya, seringkali saya
mendengar cerita dan tragedi seperti ini;
Pertemuan antara 2
orang asing yang hanya secara kebetulan; misalkan bertemu di sebuah kafe, lalu
bertanya jenis kopi apa yang dia pesan. Atau, bisa saja berkenalan di sebuah
ulang taun teman, atau semacamnya.
Ya, pertemuan
memang selalu mudah, namun perpisahan memang selalu sulit.
Apakah ini yang dinamakan dengan takdir?
Tidak, tidak, sayangnya, saya kurang
percaya dan tidak mau percaya. Mengapa?
Karena kebanyakan
wanita selalu menginginkan kisah cinta yang “terkesan mesra” seperti layaknya
di FTV dan sinetron. Misalkan, 2 orang secara kebetulan bertemu di jalan karena
bertabrakan, awalnya saling musuhan, lalu pada akhirnya saling jatuh hati.
Atau, bertemu
dengan orang asing baik hati yang memungut bukumu yang jatuh, lalu secara tidak
sengaja tangan kalian bersentuhan, lalu inilah dinamakan love at the first
sight.
Hahaha,
menggelikan.
Saya memang tidak
pernah mengharapkan kisah yang “full of drama” seperti itu, saya hanya berusaha
untuk bersikap realistis. Seperti halnya orang-orang menunggu waktu yang tepat,
meskipun waktu yang tepat tidak menunggu orang-orang. x')))))))))))))))))
Namun, yang tadi
itu hanya paragraf penuh kebohongan.
Jujur saja, saya
takut akan pertemuan. Mengapa?
Simpel saja, karena
saya takut akan perpisahan.
Perpisahan memang
banyak penyebab. Dan yang terironis adalah, saat ketidakcocokan mulai muncul.
Ketika dia yang
dulu kamu kenal, sudah berbeda. Dia menjadi orang asing bagi kita.
Time changes, people change. Begitulah hukumnya.
Jujur, saya juga terkadang bingung dengan perubahan. Mereka yang menjauh,
atau malah saya yang menjauh dengan tidak saya sadari?
Yang jelas, kami
kembali menjadi orang asing (lagi).
Jadi, ujung dari pertemuan itu adalah, perpisahan.
Pertemuan kita begitu cepat, begitupula dengan perpisahan kita.
I told myself
“don’t cry”, but I end up crying.
I know it’s hard to
say goodbye. But I have to do so.
Well, mengikhlaskan
perpisahan ternyata memang tidak segampang yang saya kira.
Saya seringkali menyisakan sebuah
pertanyaan; haruskah saya menyesal akan perpisahan, atau haruskah saya menyesal
atas pertemuan?
Saya berjalan ke sana kemari, saya bingung, saya bertanya.
Kalau pertemuan kita semudah itu, seharusnya perpisahan kita juga tidak
akan sesulit ini.
Lalu, saya
terbangun.
Saya sadar.
Saya bisa apa?
Karena berusaha sekeras apapun, Tuhanlah sutradara dalam kehidupan kita. Kalau
Tuhan memang belum mengijinkan saya dan kamu menjadi “kita”, maka saya tak akan
bisa mengubah perpisahan ini.
Saya tahu, saya
seharusnya tidak boleh besikap egois. Namanya juga hidup, ada yang datang ada
yang pergi, ada pertemuan dan ada perpisahan. Hal ini menjadi lumrah, karena
kita hanya merancangkannya. Tuhanlah yang menentukan segalanya.
Pertemuan,
perpisahan. Mungkin itu semua cara bumi berputar. Sementara kita yang ada di
dalamnya mencoba bersabar, dengan segala keadaan.
Ada awal ada akhir,
ada pertemuan ada perpisahan, ada saat memiliki ada saat melepaskan.
Jangan menyesali
perpisahan, seperti kau tak menyesali sebuah pertemuan; begitu kata teman saya.
Hidup ini hanya
sementara, begitulah orang yang ada di dalamnya. Setiap pertemuan pasti akan
ada perpisahan, jadi tak perlu untuk disesali. Karena, suatu saat kita akan
berada di tempat yang pasti.
Jangan sesalkan
perpisahan, jika perpisahan itu akan membawa kita ke sebuah pertemuan baru.
Pertemuan adalah
perpisahan yang tertunda. Dan jika memang harus berpisah, biarlah pelajaran di
setiap pertemuan yang akan mendewasakanmu.
Sayapun dapat menarik sebuah kesimpulan dari paragraf panjang bertele-tele yang menghabiskan beberapa menit dalam hidup anda untuk membacanya; dari orang asing, kembali menjadi orang asing.
Dalam pertemuan, ada cerita. Dalam perpisahan, ada kenangan. Dalam
jarak, ada rindu. Dalam hatiku, ada dirimu. Dalam diam, ada doaku untukmu.
Whenever and whereever, I always wish your happiness.
Selamat tinggal.
